SEKILAS INFO
: - Kamis, 13-12-2018
  • 4 bulan yang lalu / Welcome to Official Website of  SMA Negeri 2 Cikarang Utara
Belajar Menjadi Guru dari “Guru”

Radarbekasi.id – Hari ini, seperti biasa setelah menuntaskan ‘pertemuan’ dengan  di kelas, saya menuju ruang guru untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan ‘pertemuan’ dengan generasi penerus bangsa di kelas selanjutnya. Melewati selasar kelas, riuh suara para siswa yang baru keluar dari kelasnya untuk menikmati saat istirahat beberapa jenak. Beberapa di antaranya ada yang sudah makan-minum, mungkin mereka sudah sempat ke kantin atau mungkin mereka membawa bekal  dari rumah. Beberapa yang lain, terlihat hanya berbincang, bercanda, bermain gawai, atau  ada juga yang masih menulis dan membaca. Untuk bermain gawai, memang di sekolah kami masih memperbolehkan peserta didik membawanya ke sekolah. Hal ini dengan pertimbangan bahwa terkadang ada pelajaran tertentu yang memberikan tugas kepada siswa untuk browsing mencari referensi dan menambah sumber belajar. Tapi tentu saja ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung maka peserta didik dilarang untuk mengaktifkan  gawainya. Nah, ketika tiba saat istirahat seperti inilah, mereka berkesempatan  untuk berselancar atau mengutak-atik gawainya.

        Tatkala melewati gazebo, sesosok pria yang bila ditilik dari penampilannya tidak bisa dikatakan siswa:  berkemeja, celana jeans,dan  sepatu kets, busana yang tidak lazim dikenakan siswa ketika mengikuti kegiatan belajar mengajar. Senyum ramah tersimpul dan uluran tangannya mengarah padaku sebagai ungkapan salam takzimnya. Perbincangan hangatpun mengalir.  Ternyata dia merupakan alumni SMA ini, julukannya sekarang adalah mahasiswa. Ketika dia menyebutkan nama sebuah PTN, sontak terperanjatlah aku. Bagaimana tidak  terperanjat karena PTN yang dimaksudnya itu adalah PTN idaman, yang nyaris dicita-citakan oleh banyak anak negeri yang ingin berkuliah . Jujur, terselip sedikit rasa tidak percaya. Dan rupanya dia begitu cepat membaca situasi ini maka segera dikeluarkannya sebuah kartu dari dalam dompet yang terselip di kantong belakang celananya. Kartu mahasiswa, tertulis namanya. Wow!

        Obrolan kamipun ke sana ke mari, sesekali flashback: bernostalgia masa SMA-nya dulu. Di tengah perbincangan, saya menawarkan padanya untuk masuk ke ruang guru,  bersilaturahmi dengan para pengajarnya. Tawaranku tak ditampiknya, berjalan berjejer di sisiku sambil tawa melebur dalam setiap cerita kami. Kehadirannya di ruangan ini  disambut hangat oleh para guru. Satu persatu guru dihampirinya sambil terus menebar senyum dan berbagi cerita. Hingga sampailah pada seorang guru, yang selintas kulihat, dengan penuh hormat diambilnya tangan guru tersebut untuk disalaminya sambil berucap, “Mohon maaf bila dulu saya pernah membuat Ibu begitu marah, begitu murka. Saya mohon doa Ibu untuk melanjutkan studi ke Jerman dengan beasiswa dari Kedutaan Besar.” Raut kaget terpancar di wajah Ibu Guru itu dan sayapun juga demikian, tak kalah kagetnya karena sepanjang pembicaraan tadi tak terucap hal seperti yang baru saja diungkapkannya. Selanjutnya, respons yang ditampilkan Ibu Guru itu sungguh di luar dugaan. Serta merta meluncur kalimat,”Ah, Kamu bisa saja mengarang cerita. Ibu tahu bagaimana kelakuanmu waktu SMA dulu. Kamu pernah mengajak teman sekelasmu untuk bolos tidak mengikuti pelajaran Ibu. Dan sekarang, Kamu mengabarkan akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Yang benar saja. Memangnya Kamu kuliah di mana?”

        Kukira dia akan tersinggung mendengar perkataan Ibu Guru itu, namun ternyata dia datar-datar saja, tak tampak amarah. Sepertinya dia sudah menyiapkan mental dan juga sudah menyiapkan skenarionya sendiri. Langsung dikeluarkannya sebuah kartu. Sama seperti yang tadi sempat ditunjukkannya padaku di awal jumpa. Demi melihat dan membaca kartu yang ditunjukkannya, wajah Ibu Guru itu sedikit memerah. Tapi tak sepatah katapun meluncur dari mulutnya, tak menyangkal, pun tak memuji. Pikir positifku, barangkali Ibu Guru itu sangat lihai menguasai diri padahal sebetulnya dia sungguh terperanjat, tak menyangka, atau bahkan sebenarnya dia teramat kagum atas prestasi yang diperoleh anak didiknya, tapi self control-nya mampu menutupi semuanya.    Ditinggalkannya Ibu Guru itu, diapun beranjak menemui guru-gurunya yang lain. Setelah semua guru yang ada di ruangan disapanya, terakhir dia pun kembali menjumpaiku.

        Bertuturlah dirinya, mengungkapkan alasan mengapa dia menyempatkan meluangkan waktu untuk mengunjungi SMA-nya. Dendam masa lalu akibat perkataan Sang Guru yang mengatakan bahwa dirinya termasuk anak yang tak berguna, provokator, hingga kata-kata yang begitu menyakitkan: ‘sampah masyarakat’, begitu membekas dalam benaknya. Atas dasar ‘dendam’ inilah, membuatnya begitu termotivasi untuk menjadi ‘seseorang’ sebagai pembuktian bahwa semua tuduhan yang dulu pernah dilontarkan Sang Guru itu, bisa terhapus dengan prestasi yang diraihnya kini.

         Berkaca dari peristiwa di atas, kita bisa belajar banyak hal. Di antaranya, sebagai guru alangkah lebih bijaksananya bila setiap ucapan yang meluncur mengandung makna positif, pembangkit semangat, pemompa motivasi. Guru mungkin bisa merasa ‘berkuasa’’, tapi harus diingat bahwa peserta didik pun memiliki jiwa yang sama dengan gurunya. Kata-kata bisa lebih tajam daripada mata pisau dan mampu melukai tanpa berdarah maka peliharalah lidahmu.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR