Selamat menempuh Penilaian Akhir Semester 1, semoga para siswa memperoleh hasil yang memuaskan


SMAN 2 CIKARANG UTARA

NPSN : 20253190

Jl Raya Lemahabang Desa Simpangan Kec. Cikarang Utara Kab. Bekasi 17550


info@sman2cikut.sch.id

TLP : 021-89106357


          

Jajak Pendapat

Setelah lulus SMA saya akan
Kuliah
Kerja
Kuliah dan kerja
Menikah
Belum tahu
  Lihat

Statistik


Total Hits : 59784
Pengunjung : 15955
Hari ini : 27
Hits hari ini : 72
Member Online : 9
IP : 54.82.79.109
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Meriahnya HUT Guru di SMANDA




ARTIKEL
GURU MULIA KARENA KARYA
(SEBUAH REFLEKSI DIRI DEMI MEWUJUDKAN MIMPI MENJADI GURU PROFESIONAL)



Oleh : LILI PRIYANI,M.MPd
GURU SMAN 2 CIKARANG UTARA, KAB. BEKASI


        Perbaikan kualitas pendidikan saat ini merupakan isu yang sangat menarik dan senantiasa menjadi diskursus antara pemerintah sebagai institusi dan guru yang memahami dunia nyata di lapangan, serta pengawas pendidikan yang senantiasa mengusung teori. Dikatakan diskursus karena pendidikan merupakan sebuah sistem berpikir, pengungkapan ide-ide,pemikiran, dan gambaran yang kemudian membangun konsep suatu kultur atau budaya yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Termasuk di dalamnya asumsi-asumsi umum dalam beredar di lingkungan pendidikan. Dalam hal ini, pemerintah sudah sangat serius melakukan beberapa perubahan dan pembaruan, seperti perbaikan kurikulum, melakukan standardisasi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, meningkatkan profesionalisme guru melalui pelatihan dan diklat, dan bagi pengawas diberikan tugas pokok yang inspecting (mensupervisi), advising (memberi advis atau nasihat), monitoring (memantau), reporting (membuat laporan), coordinating (mengkoordinir), dan performing leadership (melaksanakan kepemimpinan).
       Pergeseran secara substansial dan fundamental terjadi pada tugas, fungsi, dan peran guru di masa depan. Fungsi guru di masa depan tidak lagi hanya sekadar mendidik, mengajar, melatih, membimbing, mengarahkan, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Potret ideal guru abad 21 terlihat dari penumbuhan dan pengembangan  budaya meneliti, menulis, diskusi, penguasaan teknologi informasi, memiliki sikap kreatif, adaftif, inovatif,  demokratis, tegas, peduli, serta bertanggung jawab. Hal ini ternyata menjadi isu sentral bagi dunia pendidikan saat ini. Mau tak mau, guru harus berusaha untuk melakukan peningkatan kualitas demi terwujudnya guru yang profesional.
       Profesionalisme guru didukung oleh tiga hal, yaitu (1) keahlian, (2) komitmen, dan (3) keterampilan. Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dengan baik, pemerintah sudah sejak lama berupaya merumuskan perangkat standar kompetensi guru. Tak berlebihan bila kemudian, muncul ungkapan “ Berikan seorang guru yang baik, meskipun dengan kurikulum yang tidak baik, maka tetap saja akan menghasilkan peserta didik yang baik”. Hal ini mempertegas bahwa aspek guru jauh lebih penting dibandingkan dengan aspek lain, seperti kurikulum. Terlebih guru dituntut untuk  menemukan inovasi dan resolusi cara mengajar yang efektif, yang sebetulnya bisa terwujud apabila guru tersebut berkeinginan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Mengapa guru perlu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis ? Jawabannya bisa ditelisik dari paparan berikut ini.
        Tak dipungkiri, antara guru dan kegiatan membaca merupakan dua hal yang tidak bisa terpisahkan.  Guru tidak akan memiliki banyak pengalaman hidup atau bisa merasakan pengalaman hidup orang lain bila tidak menyenangi membaca.  Guru tidak akan bisa memperoleh pengetahuan umum dan informasi terbaru yang bisa dibagikan kepada peserta didiknya. Guru tidak mengetahui berbagai peristiwa kebudayaan dan sejarah yang bisa diceritakan.  Guru tidak akan mampu menyeimbangkan kemampuan peserta didik dalam bidang teknologi dan informasi. Guru tidak akan mampu memperkaya batin bahkan  memiliki cara pandang yang sempit dan pola pikir yang kaku. Guru tidak akan bisa membantu peserta didik untuk menyelesaikan berbagai masalah  kehidupan dan akhirnya tak akan mampu mengantar peserta didik menjadi siswa yang pandai.   Guru akan tampak tak bertenaga bila kemampuan membacanya rendah. Guru terlihat tidak menguasai apa-apa bila tidak mau meningkatkan kemampuan membacanya.
        Sementara itu untuk kegiatan menulis, seorang guru perlu berlatih untuk menuangkan ide kreatifnya dalam bentuk tulisan. Bukankah dengan menulis, kita sudah merekam jejak sejarah. Menulis merupakan salah satu instrumen perekam jejak sejarah, wasilah inilah yang sepatutnya kita perdalam agar ilmu yang kita miliki bisa diteruskan kepada generasi setelah kita tiada. Di samping itu,  menulis merupakan instrumen untuk menjaga ilmu, pendapat, pemikiran, opini, dan argumen agar tidak hilang begitu saja, tanpa bekas dan hasil tulisan bisa tersebar secara luas. Dengan menulis, kita bisa memposisikan diri kita menjadi pendakwah, penyebar kebaikan. Menulis pun merupakan media belajar karena saat kita mencari dan mengumpulkan informasi, sebenarnya kita sedang tenggelam dalam unia belajar, kita sedang mengasah dan mempertajam otak dan pikiran, kita sedang mengembangkan diri, serta lebih jauh kita akan lebih terasah  kesantunan dan kebijakan dalam menyikapi semua kejadian. Menulis pun  ternyata akan membuat hidup kita lebih produktif  dan tidak membuang waktu dengan percuma. Ide-ide kreatif akan bermunculan karena menulis adalah salah satu media komunikasi yang efektif.Terlebih, dengan menulis kita dilatih untuk siap dikritik dan dievaluasi oleh pihak lain serta akhirnya kita terlatih untuk menemukan solusi terhadap semua problema yang muncul.
        Bagi seorang guru profesional, kegiatan menulis bisa dikatakan sebagai suatu kebutuhan dan keharusan. Melalui kegiatan menulis diharapkan  guru dapat menuangkan ide yang menarik dan kreatif yang bersifat ilmiah dan juga imajinatif. Proses pembelajaran pun diupayakan mampu memberikan ruang untuk mengoptimalkan kebebasan berpikir. Tuntutan yang mendesak bagi tenaga pendidik sekarang adalah kemauan dan kemampuan menulis dan meneliti. Hal ini menjadi sangat mendesak karena ‘wajib’ bagi tenaga pendidik untuk pemenuhan kenaikan jabatan/kepangkatan. Sejak tahun 2013 berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16 tahun  2013 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya mensyaratkan untuk kenaikan jabatan/pangkat dari mulai golongan III/b ke III/c dengan memasukkan unsur publikasi dan atau karya inovatif serta unsur pengembangan diri. Aturan perundangan ini menjadi landasan dan acuan bagi tenaga pendidik/guru untuk ‘membiasakan dan memampukan diri’ untuk menulis dan meneliti, menjadi penulis dan peneliti.
Namun fakta yang terjadi di lapangan malah menunjukkan hasil yang tidak sesuai harapan.  Bagaimana tidak?  Belum banyak guru yang mau memanfaatkan waktu di sela kesibukannya mengajar atau mengerjakan tugas-tugas lainnya, dengan kegiatan membaca menulis. Bahkan untuk sekadar memotivasi siswa untuk menumbuhkembangkan budaya literasi saja, rasanya menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kebiasaan membaca selama lima belas menit sebelum memulai kegiatan belajar mengajar  di kelas, menjadi kegiatan yang tersendat-sendat, tidak berjalan sesuai harapan, bahkan guru pun melakukan pembiaran ketika siswa tidak melakukannya. Padahal jelas sekali bahwa dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, disebutkan ada beberapa pembiasaan positif yang dilakukan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, seperti berdoa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan/atau lagu wajib nasional lain.
Melalui Permendikbud tentang Penumbuhan Budi Pekerti itu juga diatur mengenai kegiatan membaca buku nonpelajaran sekitar 15 menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Mendikbud mengatakan, salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah usaha menumbuhkan minat baca. Usaha pemerintah dalam menumbuhkan minat baca tidak cukup dengan menurunkan pajak dan harga buku, tetapi juga harus bisa mendorong peningkatan permintaan atas buku.
Untuk kegiatan tersebut dikembangkanlah  Gerakan Literasi Sekolah yang melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat,provinsi, kabupaten dan kota hingga satuan pendidikan. Selain itu, pelibatan unsur  eksternal dan unsur  publik yakni, orang tua peserta didik, alumni, dunia usaha,  dan industri, juga menjadi komponen penting dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah.
Intinya dengan Gerakan Literasi Sekolah ini nanti diharapkan peserta didik akan mempunyai kebiasaan membaca, baik membaca buku  pelajaran maupun buku nonpelajaran. Ini adalah suatu upaya dengan bertumbuhnya budaya membaca dan menulis  di sekolah, diharapkan pula mampu meningkatkan kreativitas peserta didik  dalam segala hal yang positif demi terwujudnya generasi emas Indonesia yang literat.
Tidak ada kebanggan lain yang bisa diwariskan oleh seorang guru yang profesional, selain karya nyata, yang salah satunya bisa berupa tulisan/buku. Guru tidak usah terlalu panjang lebar untuk memotivasi siswa agar belajar sungguh-sungguh, bila gurunya sudah memberikan contoh dan keteladanan. Bukankah guru itu adalah role model bagi peserta didik. Mereka akan mencontoh apa yang gurunya lakukan. Tokoh guru merupakan sosok panutan yang bisa menginspirasi peserta didiknya. Tak salah bila ada ungkapan ‘Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru’. Meskipun kenyataannya guru juga manusia biasa yang tak pernah luput dari khilaf dan salah.
Untuk memampukan guru menuangkan ide kreatif dalam bentuk tulisan dapat dilakukan beberapa upaya, seperti segera menuangkan pendapat, ide, dan pemikiran yang seketika muncul (tidak usah menunggu, tidak usah mengendapkan, langsung menulislah), tidak usah terbebani dengan teori menulis yang sering disampaikan dalam seminar menulis karena ketika kita ingin menulis maka solusinya adalah ‘menulislah’. Ketika kita menemui kendala pada penulisan kata, penulisan huruf, penulisan tanda baca, maka untuk sementara hal ini bisa kita atasi dengan bantuan editor. Di samping itu, sebagai penulis pemula kita perlu bergabung dengan komunitas yang memiliki ketertarikan yang sama dalam bidang tulis-menulis. Dengan bergabung bersama orang-orang yang mempunyai visi dan misi yang sama maka akan menambah motivasi kita untuk menghasilkan karya.
Akhirnya, semoga kita mampu memantaskan diri kita sebagai ‘guru yang profesional’. Dengan meningkatkan keprofesionalan guru maka sebagai guru kita sudah berperan serta mencetak generasi emas yang literat. Semoga!
“Dengan membaca, kita mampu menelisik sejarah”
“Dengan menulis, kita mampu memahat sejarah”
“Kita boleh saja tiada, tetapi tulisan kita akan selalu berada”
SELAMAT HARI GURU 2017


(Cikarang Utara, 1 November 2017)



Share This Post To :




Kembali ke Atas


Berita Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :

 

Komentar :


   Kembali ke Atas